Mengenal dan Memahami Rupiah untuk Mewujudkan Cinta Rupiah

4

Siapa yang tidak mengenal rupiah? Ya, semua orang mengenal rupiah. Setiap hari kita menggunakannya sebagai alat pembayaran di negara kita. Namun, apakah semua orang mengenal betul rupiah? Tentunya jawabannya tidak seperti pernyataan pertama. Tidak semua orang mengenal betul. Seperti kejadian dipelesetkannya Logo BI di uang rupiah emisi 2016 sebagai Lambang PKI, adalah salah satu contoh kita masih belum mengenal betul rupiah.

Terus, bagaimana dengan wacana, “Gerakan Cinta Rupiah” yang telah ada sejak tahun 1997-1998 di masa krisis moneter. Pada masa itu, sedang booming sampai muncul lagu, “Aku Cinta Rupiah” yang dinyanyikan oleh Cindy Cenora. Dari lagu itu dapat dipetik, kita sebagai Warga Negara Indonesia tentu transaksi pakai rupiah. Terlihat antusias kita pada masa itu, tidak hanya untuk mengenal rupiah saja. Tetapi juga, antusias untuk memahami pentingnya rupiah di tengah kehidupan kita. Namun, seiring berjalannya waktu dengan kestabilan nilai rupiah yang terus membaik, banyak dari kita yang tidak mengenal dan memahami rupiah lebih dekat. Padahal, hal ini merupakan poin utama yang mempengaruhi kondisi negara di segala aspek. 


Terus, bagaimana sih cara mengenal dan menyayangi rupiah?

Pepatah berkata, “Tak kenal maka tak sayang” begitu juga dengan perasaan terhadap rupiah sebagai mata uang negara kita. Uang rupiah adalah alat pembayaran yang sah di Negara Indonesia. Di Indonesia, dikenal 3 jenis uang yaitu uang kartal, uang giral, dan uang kuasi.


1. Uang Kartal

Uang kartal adalah uang yang diciptakan oleh otoritas moneter (Bank Indonesia) yaitu uang kertas dan logam. Uang kartal merupakan identitas rupiah dan uang yang paling banyak digunakan. Sebagian besar sudah tahu untuk mengenal uang rupiah dengan cara 3D yaitu dilihat, diraba (terasa kasar), dan diterawang (dilihat sambil diarahkan ke cahaya). Secara umum, uang rupiah mempunyai warna yang terang dan jelas. Hal ini kita lakukan untuk mengetahui ciri-ciri keaslian uang rupiah. Berikut 2 unsur pengamanan pada uang kertas rupiah yang perlu diketahui

Unsur Pengamanan Bahan Uang
  1. Tanda Air (Watermark) dan Ornamen (Electrotype)

    Watermark & Electrotype
    Diterawang – Tanda air berupa foto pahlawan dan terdapat di setiap uang kertas, sedangkan ornamen berupa logo BI terdapat pada pecahan Rp100.000,00 Rp50.000,00 Rp20.000,00 dan Rp10.000,00.
  2. Benang Pengaman (Security Thread)

    Benang Pengaman Rupiah
    Dilihat – Terdapat 2 jenis benang pengaman. Jenis anyaman terdapat pada pecahan Rp100.000,00 Rp50.000,00 Rp20.000,00 dan Rp10.000,00. Sedangkan jenis tertanam terdapat pada pecahan Rp5.000,00 Rp2.000,00 dan Rp1.000,00.
Unsur Pengamanan Teknik Cetak
  1. Teknik Cetak Khusus (Intaglio)

    Teknik Cetak Khusus Rupiah
    Diraba – Gambar utama adalah gambar Lambang Negara “Garuda Pancasila”, angka nominal, huruf terbilang, frasa “Negara Kesatuan Republik Indonesia”, dan tulisan “Bank Indonesia” yang terasa kasar saat diraba.
  2. Gambar Saling Isi (Rectoverso)

    Rectoverso Rupiah
    Diterawang – Gambar Logo Bank Indonesia akan terlihat utuh saat diarahkan ke cahaya.
  3. Tinta Berubah Warna (Colour Shifting)

    Tinta Berubah Warna
    Dilihat – Gambar perisai dengan Logo BI akan berubah warna saat dilihat di sudut pandang yang berbeda. Tinta berubah warna terdapat pada pecahan Rp100.000,00 (merah keemasan – hijau) Rp50.000,00 (merah keemasan – hijau), dan Rp20.000,00 (hijau – ungu).
  4. Gambar Tersembunyi Multiwarna (Multicolour Latent Image)

    Gambar Tersembunyi Multiwarna
    Dilihat – Terdapat gambar angka tersembunyi yang merupakan kombinasi warna, terdapat pada pecahan Rp100.000,00 Rp50.000,00 Rp20.000,00 (merah, kuning, dan hijau), dan Rp10.000,00 (ungu, biru, dan kuning).
  5. Kode Tuna Netra (Blind Code)

    Blind Code
    Diraba – Berupa pasangan garis di sisi kanan dan kiri yang terasa kasar. Penentuan kode tuna netra berdasarkan konsultasi BI dengan Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia).
  6. Gambar Tersembunyi (Latent Image)

    Laten Image
    Dilihat – Bagian depan pecahan Rp100.000,00 Rp50.000,00 Rp20.000,00 dan Rp10.000,00 terdapat tulisan “BI” dalam bingkai persegi panjang. Sedangkan bagian depan pecahan Rp5.000,00 Rp2.000,00 dan Rp1.000,00 terdapat angka 5, 2, 1, dan tulisan “BI”. Bagian belakang pecahan Rp100.000,00 Rp50.000,00 Rp20.000,00 dan Rp10.000,00 terdapat angka 100, 50, 20, 10 yang dapat dilihat dengan sudut pandang tertentu.

2. Uang Giral

Pemerintah dan Bank Indonesia mewajibkan pengguna tol, melakukan pembayaran dengan e-money mulai 31 Oktober 2017. Penggunaan e-money berpengaruh terhadap perputaran uang sehingga dapat menekan laju inflasi.

Uang giral adalah uang yang dapat diciptakan oleh bank umum berupa surat-surat berharga yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran sewaktu-waktu. Uang giral bersifat lebih praktis dan lebih aman dari uang kartal untuk pembayaran dalam jumlah besar. Contoh uang giral adalah cek, giro, kartu kredit, wesel pos, ATM, dan e-money.

3. Uang Kuasi

Uang kuasi adalah uang yang dapat diciptakan oleh bank umum berupa surat-surat berharga, namun tidak dapat digunakan sewaktu-waktu karena uang jenis ini memiliki sifat berjangka. Contoh uang kuasi adalah tabungan berjangka dan deposito berjangka.


Nah, sudah mengenal uang rupiah. Mengikuti kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang“. Karena kita sudah mengenal betul rupiah. Baru kita dapat betul-betul menyayangi rupiah. Menurut panduan dari Bank Indonesia, kita dapat menyayangi uang dengan 5D yaitu jangan dilipat, jangan dicoret, jangan diremas, jangan dibasahi, dan jangan distraples uang rupiah. Hal tersebut tidak lain, untuk menjaga uang rupiah yang beredar memenuhi standar uang layak edar.


Dilipat


Dicoret-coret


Diremas


Dibasahi



Terus, mengapa sih kita perlu menyayangi uang rupiah? Kita mendapat rupiah dari hasil kerja kita, tentunya hasil kerja itu adalah hal yang berharga buat kita. Selain itu dengan menyayangi uang rupiah, kita berarti berpartisipasi langsung dalam rangka menurunkan angka kerusakan uang yang beredar, serta secara tidak langsung berpartisipasi untuk menurunkan peluang kerugian orang lain akibat dari kerusakan uang rupiah yang didapatnya. Begitu pula uang giral dan kuasi juga perlu kita berikan perlakuan yang sama.


Kita sudah mengenal dan menyayangi rupiah. Terus, mengapa kita juga perlu memahami rupiah untuk mewujudkan cinta rupiah?

Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal banyak orang, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Namun, tidak semua yang kita kenal kita sayangi. Apakah kita akan menyayangi nyamuk yang menghisap darah kita? Tentunya tidak. Begitu juga, tidak semua yang kita sayangi kita cintai. Contohnya kalimat, “Guru menyayangi muridnya” dengan, “Guru mencintai muridnya” tentunya mempunyai pengertian yang berbeda untuk masing-masing orang. Untuk mencintai rupiah, kita tidak cukup hanya menggunakan, namun juga tentang pemahaman mengenai pentingnya rupiah dalam kehidupan kita sebagai Warga Negara Indonesia. Pemahaman tentang pentingnya rupiah, tentunya dapat menjadi perasaan alami untuk mencintai rupiah.

Untuk memudahkan memahami peranan rupiah, pertama kita perlu berkaca pada masa krisis moneter tahun 1997. Masa krisis moneter merupakan gejolak kondisi perekonomian di beberapa Negara Asia, disebabkan oleh nilai uang yang menurun terhadap dolar yang dipicu oleh kegiatan pasar valuta asing. Fakta, Indonesia ikut kena dampaknya yang cenderung diakibatkan oleh kinerja pemerintah dan pihak perbankan yang tak lain adalah hutang negara. Semua harga barang menjadi naik (inflasi) yang tidak terkendali . Lebih parahnya, menimbulkan keresahan bagi masyarakat, pembangunan negara menjadi semakin lambat serta dunia politik yang semakin kacau saat itu.

Kenapa negara tidak mencetak rupiah sebanyak-banyaknya untuk membayar hutang negara?

Pertanyaan tersebut mungkin pernah terlintas di pikiran kita. Namun, dalam kenyataannya nilai uang bersifat tidak nyata. Banyaknya uang rupiah yang dicetak harus sesuai dengan kemampuan, kesadaran, dan tanggung jawab setiap negara dalam mengelola perekonomian. Sehingga kurs rupiah akan dikonversi terlebih dahulu untuk membayar hutang tersebut. Apabila uang yang dicetak sangat banyak, hal ini dapat menyebabkan kurs rupiah anjlok terhadap harga barang dan jasa (inflasi tinggi). Kasus terpopuler adalah inflasi negara Zimbabwe pada tahun 2008 akibat pencetakan uang yang berlebih, sehingga untuk membeli sebutir telur diperlukan sekeranjang uang dolar Zimbabwe. Dari sana sudah dapat diketahui pentingnya kestabilan nilai rupiah terhadap keberlangsungan negara kita.

Selain hutang negara, apa yang mempengaruhi nilai rupiah terkait pemahaman kita terhadap rupiah?

Nilai rupiah merupakan tolak ukur yang memperlihatkan perkembangan negara kita di segala aspek. Dalam ruang lingkup finansial meningkat atau menurunnya nilai rupiah dapat dilihat dari tingkat inflasi yang terjadi. Dalam kehidupan sehari-hari, jika semakin tinggi permintaan konversi rupiah ke mata uang asing terutama dolar, maka menyebabkan tingginya harga kurs dolar (melemahnya rupiah terhadap dolar). Dengan dianut sistem perekonomian terbuka (mengijinkan impor barang), hal ini menyebabkan semakin tingginya dampak dari luar yang mempengaruhi inflasi (peningkatan harga barang dan jasa) di negara kita dan secara langsung berpengaruh terhadap masyarakat luas. Fakta, permintaan dolar tidak bisa dicegah karena proses impor merupakan suatu keharusan di zaman sekarang.

Grafik Nilai Tukar Rupiah & Tingkat Inflasi saat Krisis Ekonomi
Grafik nilai tukar rupiah & tingkat inflasi saat krisis ekonomi AS tahun 2007-2009.

Grafik di atas menunjukkan nilai tukar rupiah bulan Januari 2007 sampai Desember 2009 dan tingkat inflasi bulan Desember 2007 sampai Januari 2010. Nilai rupiah sebelum krisis tahun 2007 menunjukkan kestabilan di angka Rp 9.000,00-an. Namun, saat perekonomian Amerika Serikat mengalami puncak krisis di tahun 2008, secara signifikan nilai rupiah mengalami penurunan yang tinggi hingga menyentuh angka Rp 12.462,00 per dolar tepatnya tanggal 26 Nopember 2008. Kemudian, berlanjut ketika perekonomian Amerika Serikat mulai membaik begitu juga nilai rupiah kembali secara stabil dalam kisaran angka Rp 9.000-an. Begitu juga tingkat inflasi rupiah terlihat mengikuti nilainya terhadap dolar. Tentunya hal ini disebabkan karena tingginya permintaan konversi kurs rupiah ke dolar di negara kita. Dalam arti kasarnya, dolar Amerika Serikat dengan mudahnya mempengaruhi kondisi perekonomian negara kita saat itu.

Terus, apa yang dapat kita lakukan untuk menguatkan nilai rupiah?

Kita sebagai Warga Negara Indonesia dapat merealisasikan pemahaman pentingnya rupiah dengan bijak dalam menggunakan dolar/uang asing untuk menguatkan nilai rupiah. Sehingga secara tidak langsung kita peduli dengan sesama Warga Negara Indonesia untuk bisa hidup makmur secara lebih merata dari sekarang. Proses ini untuk banyak kalangan bisnis dan beberapa UKM tidaklah mudah dilakukan, karena faktor kebiasaan serta pemahaman yang kurang terhadap pentingnya rupiah. Contohnya hotel-hotel yang masih menerima dolar untuk pembayaran. Permasalahan sekarang tidak hanya soal uang kartal, namun terlebih terhadap penggunaan uang giral dan kuasi dalam kurs asing/dolar yang semakin menjadi trend.


Kita sudah mengenal dan memahami pentingnya rupiah. Bagaimana proses selanjutnya untuk cinta rupiah?

Grafik Rupiah 2015-2017 Menguat dengan target target inflasi 4% (+/-1%) Terpenuhi
Grafik nilai rupiah 2015-2017, stabil dengan target target inflasi 4% (±1%) terpenuhi.

Menyayangi, rela berkorban, dan percaya dengan rupiah adalah hal utama yang perlu kita pupuk untuk mewujudkan cinta rupiah. Menyayangi rupiah merupakan proses awal untuk mencintai rupiah. Dilanjutkan dengan rela berkorban, yang berarti kita rela menggunakan uang asing secara bijak dengan tidak mencari keuntungan dengan menukar rupiah ke mata uang asing, yang memang untuk saat ini terlihat sangat menjanjikan. Namun, jika mencari keuntungan dari mata uang asing menjadi trend kita, cepat atau lambat saat krisis kembali terjadi maka Negara Indonesia akan mendapatkan dampak negatif yang sangat tinggi.

Cinta tidak akan terwujud tanpa kepercayaan antara satu sama lainnya. Walaupun secara umum nilai rupiah sangat ditentukan oleh kebijakan moneter (kebijakan yang bertujuan mencapai kestabilan nilai rupiah) yang diterapkan Bank Indonesia. Percayalah bahwa nilai rupiah akan menguat apabila kita sebagai Warga Negara Indonesia, bersedia untuk setia menggunakan rupiah. Usaha Bank Indonesia akan susah terwujud tanpa kepercayaan Warga Negara Indonesia. Apabila semua dari kita melakukan proses tersebut, nilai rupiah tentunya akan menguat dan terwujudnya Gerakan Cinta Rupiah di negara kita.


Nah, sudah mengenal dan memahami rupiah. Apakah Anda cinta rupiah???

Daftar Pustaka

  1. Suseno, dan Solikin. 2002. Uang: Pengertian, penciptaan dan peranannya dalam perekonomian. Jakarta:PPSK BI.
  2. Warjiyo, Perry, dan Solikin. 2003. Kebijakan Moneter di Indonesia. Jakarta: PPSK BI. 
  3. Simorangkir, Iskandar, dan Suseno. 2004. Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar. Jakarta: PPSK BI.
  4. Bank Indonesia. 2011. Buku Panduan Uang Rupiah. Jakarta: Direktorat Pengedaran Uang Bank Indonesia.
  5. Bank Indonesia. 2016. Kenali Uang Rupiah dengan 3D Tahun Emisi 2016. Jakarta: Departemen Pengelolaan Uang.
  6. Grafik kurs rupiah dan inflasi diakses 14 Desember 2017 https://www.bi.go.id/
  7. Gambar utama diedit dan diakses 14 Desember 2017 https://www.freepik.com/
  8. Gambar ciri-ciri uang diedit dan diambil dari buku “Kenali Uang Rupiah dengan 3D Tahun Emisi 2016″.
  9. Gambar e-money diedit dan diakses 16 Desember 2017 https://www.bankmandiri.co.id/
  10. Gambar 5D adalah gambar original Advernesia.

4 KOMENTAR

AYO BERKOMENTAR

Tulis komentar
Masukkan nama Anda